SURABAYA: Sejumlah seniman menilai, penyelenggara Festival Seni Surabaya (FSS) memang perlu melakukan konsolidasi sehingga pada tahun-tahun mendatang bisa terlaksana dengan lebih baik lagi.
"Selama dua kali pelaksanaan FSS terakhir kan banyak mengalami kemerosotan, terutama kepercayaan sponsor untuk mendukung festival ini," kata Farid Syamlan, seniman teater, di Surabaya, Kamis.
Ia mengemukakan, berkurangnya tingkat kepercayaan sponsor itu diakibatkan oleh kinerja panitia yang kurang baik, termasuk seseorang yang dipaksakan menjadi ketua panitia, meskipun tidak memiliki kemampuan.
"Boleh dikatakan, dua kali pelaksanaan FSS terakhir ini hancur. Karena itu wajar kalau tahun ini ditiadakan. Penyelenggara perlu melakukan introspeksi juga," kata lelaki yang kini menjabat Sekretaris II Dewan Kesenian Surabaya (DKS) itu.
Alasan Ketua Umum Putera Surabaya (Pusura), Kadaruslan bahwa FSS 2009 ditiadakan karena bersamaan dengan pemilu, menurut Farid tidak ada hubungannya sama sekali. Justru seharusnya FSS bisa memanfaatkan momen pemilu untuk menggelar berbagai kegiatan lebih berkualitas.
"Jadi menurut saya, tidak adanya FSS 2009 ini tidak ada hubungan sama sekali dengan pemilu. Kalau saja pelaksanaan tahun sebelumnya baik, tahun ini kan bisa memanfaatkan momen pemilu karena banyak kontestan yang justru membutuhkan," katanya.
Pelukis, Agus Kucing juga menilai bahwa penyelenggara FSS memang harus melakukan introspeksi, karena dua tahun pelaksanaan sebelumnya amburadul.
"Ini waktunya untuk mempersiapkan diri agar pelaksanaan FSS di masa mendatang lebih baik lagi. Karena itu teman-teman seniman harus berkreasi sendiri untuk membuat kegiatan, tanpa harus berharus bergantung pada kegiatan yang sudah ada," katanya.
Kadaruslan sebelumnya mengatakan, FSS 2009 yang waktunya hampir bersamaan dengan pelaksanaan pemilu, ditiadakan karena panitia khawatir ada yang memanfaatkan kegiatan itu untuk ajang kampanye kontestan tertentu.
"Kalau FSS itu tetap dilaksanakan, kami tidak enak karena khawatir ada yang memanfaatkan. Apalagi banyak tokoh yang dulu mendukung FSS, kini aktif di politik dan menjadi caleg," katanya.
Sebagai pimpinan dari lembaga penyelenggara festival tahunan tersebut, pihaknya lebih memilih melakukan konsolidasi ke dalam untuk pelaksanaan FSS tahun-tahun mendatang sehingga lebih berkualitas.
"Sekarang ini banyak gambar baliho bertebaran. Kami khawatir, nanti FSS juga dimasuki kegiatan semacam itu. Kami melakukan introspeksi untuk perbaikan pada festival di masa mendatang agar berjalan lebih baik lagi," katanya.