Partai apa saja yang akan menjadi bagian parlemen sudah bisa diraba, tetapi siapa pemilik kursi alias anggota Dewan yang akan berkantor di gedung parlemen masih belum jelas. H-1 hari pemungutan suara, dalam sebuah acara diskusi di gedung DPD, Anggota Dewan Pembina DPP Gerindra Permadi memprediksi secara umum kondisi parlemen tidak akan lebih baik dari sekarang. Putusan MK tentang penetapan anggota legislatif berdasarkan suara terbanyak dituding Permadi menjadi salah satu penyebabnya.
Permadi yang sebelumnya bernaung di bawah PDIP ini, mengaku pesimis parlemen periode 2009-2014 akan diisi oleh orang-orang yang punya kapasitas menjalankan tiga fungsi parlemen yakni pengawasan, pembentukan undang-undang, dan anggaran. "2009 nanti akan makin parah lagi, ditambah pelawak, artis ikut-ikutan menjadi caleg," ujar Permadi yang juga dikenal sebagai paranormal itu.
Putusan MK, menurutnya, telah membuyarkan niat partai menyiapkan caleg berdasarkan nomor urut dengan mempertimbangkan caleg-caleg yang telah memiliki pengalaman dan pendidikan politik sejak lama. "Dengan nomor urut, setiap partai sudah persiapkan caleg-caleg terbaiknya," imbuhnya. Permadi khawatir akan banyak pihak yang tidak puas dengan hasil pemilu. Ujungnya, akan banyak terjadi sengketa pemilu dan konflik di lapisan masyarakat.
Ketua Pelaksana Harian Partai Demokrasi Pembaruan Roy BB Janis menduga putusan MK tentang suara terbanyak merupakan pesanan partai politik tertentu. Roy membandingkan, "Pemilu 1999 lebih baik anggota parlemennya dibanding sekarang, karena tahun 1999 tersebut merupakan hasil produk UU yang demokratis. Sekarang lebih amburadul, diketok tapi cepat kembali lagi," ujar Caleg PDP Dapil DKI Jakarta III ini.
Seperti halnya Permadi, Roy juga mengatakan potensi konflik pasca pemilu sangat mungkin terjadi. Penyebabnya, menurutnya, tidak hanya pemberlakuan sistem suara terbanyak, tetapi juga penerapan Parliamentary Threshold. "PT (Parliamentary Threshold) yang 2,5 persen memicu potensi terjadinya konflik, jika sebuah partai hanya dapat 2,4 persen, banyak pendukung yang tidak suka sehingga konflik dapat terjadi," Roy mencontohkan.
Berbeda, Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Ahmad Mubarok justru merasa optimis. Mubarok menjamin pemilu legislatif akan berjalan dengan lancar. Ia juga yakin parlemen terpilih nanti akan dihuni oleh orang-orang yang memiliki kapasitas, karena pemilih sekarang sudah sadar atas pilihannya.
"Sikapi secara benar sampai tiba waktunya mungkin akan jadi lebih baik. Kuncinya adalah kesabaran, yaitu sebuah proses yang harus diikuti secara benar. Saya optimis proses akan berjalan dengan lancar, maka itu saya minta rakyat bersabar dan nantinya ada waktu kita akan capai semua tujuan bangsa," pungkasnya.
Sementara itu, ICW bersama jaringan Ganti Polbus memprediksi parlemen baru masih akan diwarnai dengan politik uang. Ibrahim Fahmi Badoh, Koordinator Divisi Korupsi Politik ICW, mengatakan prediksi itu tidak terlepas dari sistem pemilihan yang berlaku saat ini, yakni suara terbanyak.
Dengan sistem itu, menurut Fahmi, jalan caleg menuju kursi parlemen tidak lagi bergantung pada partai. Mereka harus berjuang mati-matian sendiri. Tidak tertutup kemungkinan demi menutup biaya kampanye yang sangat mahal, para caleg harus ‘berkongsi' dengan cukong-cukong. Bantuan cukong, tentunya tidak gratis. Ketika caleg terpilih maka cukong akan meminta balas budi. "Di sini akan bermain money politik. Jadi potret parlemen ke depan masih buram," simpulnya.