JAKARTA: Para pengusaha yang bergerak dalam usaha digital di Indonesia, saat ini masih terjebak dengan impian dapat bekerja pada perusahaan besar. "Dari segi SDM (sumber daya manusia) kita sudah mempunyai pengusaha di bidang teknologi atau technopreneur, tapi masih kurang, belum tumbuh. Baru jadi pemain kecil yang hanya berjumlah 2 sampai 3 orang," terang Kusmayanto Kadiman, Menteri Negara Riset dan Teknologi, yang ditemui dalam acara konfrensi pers Bubu Awards, di Jakarta, Rabu (15/4).
Selain itu, lanjut Kusmayanto, masalah lain yang dihadapi oleh perusahaan digital kecil dalam mengembangkan usahanya adalah sulitnya pengurusan izin usaha. Saat mengurus surat-surat, technopreneur tidak dipercaya karena jumlah karyawan yang sangat sedikit, begitupun saat mengajukan peminjaman pada bank banyak yang ditolak.
Untuk mengembangkan usahanya, sebut Kusmayanto, para technopreneur harus memerhatikan infrastruktur, content, dan konteks. "Jangan hanya mengejar target, lihat dulu kapasitas di daerah penerima, kalau memang terbatas jangan mengirim pesan bergambar, cukup teks saja," terangnya.
Selanjutnya dari segi konteks, juga harus mengikuti corak dari daerah setempat. "Kalau dari segi konteks, jangan sampai ingin bahasa Maluku disampaikan di daerah lain. Masyarakat Maluku tidak akan merasa itu adalah pesan bagi mereka," jelasnya.