Namun begitu, meski telah mewaspadai, Dinas Kesehatan Kota Depok belum menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) flu Singapura di sana.
"Sebanyak 20 kepala puskesmas telah dipanggil dan diinstruksikan waspada," ujar Plt Kepala Dinas Kesehatan Kota Depok, Hardiono, Kamis (16/4/2009).
Hardiono mengatakan, status tersebut akan berlangsung sekira 1-2 bulan mendatang atau jika tak ada laporan lagi. Tindakan yang dilakukan Dinkes Kota Depok yakni dengan melakukan penyuluhan melalui kader-kader Posyandu tentang flu Singapura.
Dinas Kesehatan Depok mencatat, kasus semacam ini pernah terjadi pada 2003 silam. Saat itu, dua balita yang menderita penyakit ini tinggal di kawasan perumahan elit Pesona Khayangan. Balita tersebut tinggal di Perumahan Bella Cassa, Kelurahan Tirtajaya, Sukmajaya, Depok dan mengalami gejala yang sama secara bergiliran.
Namun, faktor penyebab penularan penyakit ini belum terkuak. Dari keterangan beberapa orangtua balita tersebut, mereka seringkali terbang ke luar negeri untuk urusan bisnis. ?"Suami saya bisa sebulan dua kali terbang ke Singapura," ungkap Elhida.
Melihat perkembangan kasus penyakit flu Singapura ini, Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat UI Prof Dr Umar Fahmi Achmadi mengimbau masyarakat untuk mengurangi tingkat pemicu stres. Pasalnya, penyakit ini termasuk penyakit infeksi yang menyerang daya tahan tubuh.
Gejalanya, terang Umar, mirip penyakit campak dan akan sembuh dengan sendirinya pada tujuh hingga 10 hari kemudian (self limiting disease).
Penularannya pun bersifat droplet (menular melalui cairan tubuh yang terikut dengan udara yang kita keluarkan). Biasanya, virus flu Singapura seringkali bermutasi saat musim peralihan (pancaroba) dan siklusnya satu hingga dua bulan.
"Penyakit ini termasuk new emerging disease (penyakit infeksi baru) yang virusnya belum pernah diisolasi," terangnya.
Sehingga pola penyebaran virus belum diketahui secara spesifik. Prof Umar menyebutkan beberapa faktor penyebab yang membuat virus mudah bermutasi. Di antaranya perubahan lingkungan (cuaca, musim, dan suhu), kepadatan penduduk yang terlampau tinggi, serta mobilitas manusia yang tinggi.