Kamis, 27 Februari 2025

Perempuan di Dinding Kaca

Perempuan di Dinding Kaca

RAGAM
26 Januari 2009, 02:03 WIB

Oleh: Wahyu Salvana
Cuplik.com - Setiap pagi berangkat ke kantor, aku selalu lewat di depan rumah yang cukup sederhana. Berjalan kaki sambil menghirup udara segar, aku selalu mengamati rumah itu. Terawat. Tampak bersih dan sejuk.

Di halaman rumahnya terdapat berbagai macam tanaman hias yang setiap pagi dan sore selalu disirami air agar tetap terlihat cantik. Di samping rumahnya pun terdapat pohon mangga yang kalau berbuah cukup lebat, hingga tetangga pun sering ikut menikmati manisnya mangga itu.

Di salah satu sudut rumah sebelah kiri dekat dengan pintu utama terdapat sebuah kamar dengan dinding kaca bening. Sedangkan kamar di sebelah kanannya hanya terdapat sebuah jendela.

Aneh juga pikirku, kenapa desain rumah itu tidak simetris? Apakah ketika membuat bangunan ini tidak memakai jasa arsitek? Atau memang sengaja dibuat demikian?

Aku tidak terlalu memperdulikan bentuk rumah itu. Sebagus apapun bangunan rumah – tapi kalau tidak rajin merawatnya – tidak enak untuk dipandang, apalagi ditempati.

Tapi entah kenapa, rumah yang menurutku kurang bagus – kalau dilihat dari sisi desain – tapi malah lebih enak dipandang, dibanding rumah-rumah sebelahnya yang tampak mewah dengan model bangunan masa kini.

Setiap kali aku melewati rumah itu, di sudut depan rumah sebelah kiri, aku selalu melihat perempuan berambut sebahu yang setiap pagi dan sore selalu berdiri di balik dinding kaca itu. Menatap keluar; ke halaman, jalanan, tersenyum, bahkan kadang melambaikan tangan.

Aku heran juga melihat sikap perempuan itu. Samar-samar aku melihat wajah perempuan itu. Tampak cantik. Meskipun terlihat samar dari balik kaca. Baju batik yang selalu dikenakan, justru membuat raut wajahnya terlihat ceria, berseri dan alamii. Wajahnya tak berbedak, bibirnya tak berlipstik seperti perempuan kebanyakan.

Rasanya perempuan itu tersenyum ke arahku, karena ketika aku menoleh kanan-kiri dan menengok ke belakang tidak ada orang lain.

Aku jadi semakin penasaran dengan perempuan itu. Tidak hanya pagi, perempuan itu tersenyum. Ketika aku pulang dari kantor pun dia tersenyum dan melambaikan tangannya ke arahku.

Hampir setiap hari aku melihat perempuan itu, kecuali hari libur. Ketika tidak masuk kantor aku lebih suka menghabiskan waktu liburku di rumah. Menonton televisi, main game dengan keponakan atau mengundang teman-teman sekantorku memancing ikan mas di empang belakang rumah orangtuaku, membakar ikan dan makan bersama. Benar-benar hari libur yang mengasikkan.

_____

Pekerjaan di kantor sudah selesai semua. Biasanya berangkat ke kantor jam 7 pagi. Kali ini aku berangkat jam 9. Ketika melewati rumah yang berdinding kaca itu, aku kembali melihat perempuan itu. Tersenyum ke arahku.

Aku jadi semakin heran dan ingin tahu lebih jauh dengan perempuan itu. Seolah perempuan itu paham dan tahu ketika aku berangkat ke kantor, padahal kali ini berangkat agak siang. Aku pun membalas senyum dan lambaian tanggannya.

Aku ceritakan semua kejadian yang aku alami ketika melihat dan bertemu dengan perempuan itu kepada Zaki dan Ali teman sekantorku. Mereka justru tertawa.

“Itu namanya perhatian dan ada rasa. Kayak anak kecil saja.”

Timpa Ali mengejekku.

Aku tak peduli dengan ejekan kedua temanku itu. Dan aku tidak pernah berpikir ke arah sana.

“Sudahlah.. datangi saja perempuan itu. Main ke rumahnya dan diajak kenalan, terus langsung kencan!.”

Aku heran, kenapa setiap ada peristiwa yang terjadi antar lawan jenis, kok selalu dikait-kaitkan dengan urusan asmara?.

Setelah makan siang, aku langsung pulang ke rumah, padahal baru jam 12. Biasanya pulang dari kantor jam 3 sore.

Ternyata, ketika aku melewati rumah itu, aku kaget. Aku melihat perempuan itu tengah duduk. Tersenyum dan melambaikan tangannya ke arahku. Aku pun membalasnya.

Kuurungkan niatku ketika hendak memasuki pelataran rumahnya. Aku terdiam sejenak. Aku kembali melangkahkan kakiku dan membalas senyum perempuan itu.

Setibanya di rumah. Aku rebahkan tubuhku di atas kasur sambil menatap langit-langit kamar.

Entah kenapa wajah perempuan itu selalu membayangi dan mengganggu pikiranku. Baru kali ini aku merasakan hal yang begitu aneh. Padahal teman-teman perempuan di kantorku banyak yang jauh lebih cantik dibanding perempuan itu. Pandai bergaul dan berdandan, memakai busana yang kadang menggugah selera lelaki. Tapi entah kenapa justru wajah perempuan itu yang selalu melintas di otak kiriku. Senyumnya yang manis dan lambaian tangan yang ikhlas, membuat perempuan itu lebih anggun dibanding teman-teman perempuan di kantorku.

_____

Sudah tiga hari ini, aku tidak lagi melihat perempuan itu. Ketika aku berangkat dan pulang kantor pun, aku tak lagi melihat senyum manisnya.
Aku ceritakan lagi hal itu kepada Zaki dan Ali. Tetap saja ejekan yang keluar dari mulut mereka. Aku tetap tidak menghiraukannya.

Aku konsentrasi ke pekerjaan. Mungkin perempuan itu sedang banyak kesibukan di rumahnya atau juga pergi berkunjung ke rumah saudaranya.
Seperti biasa, sekalipun tidak melihat perempuan itu lagi, aku selalu memandangi rumah yang tampak asri itu dengan penuh kekaguman.

Hampir satu minggu perempuan itu tidak tampak dari balik dinding kaca. Aku justru semakin tambah memikirkannya. Ada apa? Kenapa? Dimana?

Sudah sepuluh hari. Aku belum juga melihatnya. Ketika pulang dari kantor – melewati rumah itu – terlihat orang sedang berkerumun di halaman rumahnya. Anehnya, orang-orang itu kebanyakan berpakaian serba hitam. Seperti ada kematian.

Aku jadi bertanya-tanya pada diriku sendiri. Jangan-jangan perempuan itu?
Akhirnya aku beranikan diri untuk masuk di halaman rumah itu dan melihat apa yang sebenarnya terjadi. Aku bertanya kepada salah seorang yang sedang duduk di dekat pagar rumah.

“Permisi..! Ada apa pak?, kok banyak orang?.”

“Oo.. kami disini sedang ta’ziyah. Tadi pagi setelah subuh, anaknya pak Sodikin meninggal.”

Innalillahi wainna ilaihi roojiun..

Aku lantas duduk di sebelah orang itu. Aku kembali teringat dengan perempuan itu. Dia tidak tampak. Sesekali aku berdiri dan melihat ke sekeliling rumah itu. Ternyata tetap aku tidak menemukannya. Mungkin yang perempuan semuanya berada di dalam rumah. Sedangkan yang laki-laki di luar.

Tidak berapa lama, mu’azziyin berdiri. Dari dalam rumah, empat orang laki-laki keluar sambil memanggul keranda jenazah.

Aku kembali teringat dengan perempuan itu. Ternyata dia masih juga belum kelihatan. Upacara pemberangkatan jenazah pun segera dimulai. Tampak tegar wajah pak Sodikin. Tak ada kesedihan. Mungkin sudah terhibur oleh tetangga dan kerabat yang ikut melepas anaknya menghadap Allah.

Kyai Syarof memimpin upacara sekaligus mewakili keluarga pak Sodikin.

“Innalillahi wainna ilaihi roojiun… Telah meninggal dunia dengan tenang, Aini 23 tahun, putri bapak Sodikin, tadi pagi jam 5.30, karena sakit.”

Aku tersentak kaget mendengar kalimat yang disampaikan kyai Syarof. Jangan-jangan yang meninggal itu adalah perempuan yang sering aku lihat ketika berangkat dan pulang dari kantor. Tapi semoga saja bukan.

Banyak dari mu’azziyin yang menangis, terutama perempuan dan ibu-ibu. Merasa kehilangan Aini.

“Aini adalah seorang anak yang baik. Meskipun tidak pernah bergaul. Semasa hidupnya hampir dihabiskan di rumah. Bahkan setiap hari Aini selalu berada di dalam kamarnya, yaitu di kamar yang berdinding kaca. Dinding kaca itu adalah permintaan terakhir Aini. Aini ingin dibuatkan dinding kaca agar bisa melihat keluar, melihat orang, binatang maupun tumbuhan. Aini ingin selalu tersenyum, melambaikan tangan kepada tetangga dan saudara. Meskipun sebenarnya Aini tidak bisa melihat. Oleh karena itu, bagi saudara-saudara sekalian yang pernah melihat Aini tersenyum dan melambaikan tangan lewat dinding kaca, anggaplah itu adalah sebagai tanda sapaan dan ibadah Aini kepada saudara-saudara sekalian. Semoga amal ibadahnya diterima di sisi Allah. Amiin..!”

Tak sadar, airmataku menetes. Aku tak kuasa lagi menahan tangis. Kenapa senyuman dan lambaian yang ikhlas itu tidak aku balas dengan ikhlas pula? Kenapa orang yang sebenarnya tidak bisa melihat selalu mempunyai keinginan kuat untuk bisa melihat? Kenapa aku yang sudah bisa melihat tidak pernah berusaha untuk melihat yang sudah tampak?

Aku pun turut menghantarkan jenazah Aini sampai ke tempat pembaringan terakhirnya. Setelah selesai dimakamkan. Satu per satu dari mu’azziyin meninggalkan makam.

Aku duduk di hadapan pusara Aini. Aku hanya bisa berkata dalam hati. Meminta maaf atas segala prasangka dan terimakasih atas pelajaran hidup yang begitu berharga.

Aku berdiri, lalu meninggalkan Aini. Menengok. Senyum dan melambaikan tangan ke arah pusara Aini.

Rembang, Januari 2009


Penulis :
Editor :

Tag :

CURHAT RAKYAT

Rilis Lagu Terbaru, Miss Merry Riana Ungkap Fakta

Fakta mengejutkan terungkap dari Miss Merry Riana. Siapa sangka Entrepreneur, Investor dan Content Creator ini menyanyikan sebuah lagu rohani? Berawal di akhir bulan Januari 2023, pada saat itu Produser Impact Music Indonesia, Alberd Tanoni meminta Ms

Ikan gurame terbesar sedunia di Bandung

Ikan gurame ini saya pelihara dari seukuran silet hingga besar seperti ini dalam waktu 5 tahun. Ikan gurame ini jenis bastar & berkelamin betina.

Workshop Gerabah Sitiwinangun Kabupaten Cirebon

Sitiwinangun adalah nama sebuah Desa yang terletak di Kecamatan Jamblang, Kabupaten Cirebon. Desa ini sudah lama dikenal sebagai pusat kerajinan gerabah terbesar dan masih bertahan di wilayah Kabupaten Cirebon. Dapat dikatakan kerajinan gerabah Sitiwi

TERBARU LAINNYA

IKLAN BARIS

Bakso Goyang Lidah depan Gardu Induk Singajaya, menggoda selera. Kualitas Daging Sapi terjamin.
Ruqyah Islami wilayah Indramayu dan sekitarnya, Hub Ustadz ARI wa 0877-2411-1128
layanan terapi hati ,kesembuhan luka batin,fobia,anxiety ,cemas, hidup sial,tak bahagia ,rezeki seret,psikomatik dan semua yang urusan pikiran ,bisa konsultasi wa 0813 5227 9928 /bang rudy insyaalllah
Jasa Foto / Video Wedding dan Prewedding, Live Streaming Indramayu dan sekitarnya, Harga Terjangkau Kualitas Cemerlang. Cuplik Production WA 081312829503
Hadir FRENDOT jasa pembuatan stiker, kalender, plakat, cetak ID card dan banyak lainnya lokasi depan RS MM Indramayu