cuplik.com - DEN HAAG, Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla menyatakan, Indonesia meminta negara-negara Barat, seperti Amerika Serikat, Belanda, Belgia, dan lainnya tidak meminta hanya perdagangan bebas (free trade) semata, tetapi juga perdagangan yang adil dan seimbang (fair trade).
Negara-negara AS dan Eropa jangan melihat negara berkembang hanya sebagai tempat berproduksi yang murah. Akan tetapi, tidak melihat bagaimana meningkatkan daya beli masyarakatnya.
Dengan cara demikian, negara-negara maju akan selalu menekan negara-negara seperti Indonesia untuk memproduksi barang-barang yang murah dan menjualnya kembali di negerinya dengan harga yang selangit.
Demikian disampaikan Wapres Kalla saat ditanya pers seusai bertemu Wakil Perdana Menteri Belanda Wouter Bos, yang juga merangkap Menteri Keuangan, serta Menteri Luar Negeri Belanda Maxime Verhagen di Den Haag, Belanda, Senin (9/2).
Dalam pertemuan itu, Wapres Kalla ditemani Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Muhammad Lutfie, Duta Besar RI di Belanda JE Habibie, dan Sekretaris Wapres Tursandi Alwi.
"Indonesia selalu mengemukakan jangan selalu free trade akan tetapi fair trade. Itu lebih penting, Sebab, jika tidak terjadi perdagangan yang adil dan seimbang, akan terjadi proteksionisme perdagangan, yaitu masing-masing ingin kepentingan negaranya," ujarnya.
Wapres kemudian mencontohkan perdagangan yang tidak adil dan seimbang sekarang ini, yaitu jika kemeja Indonesia diekspor dengan harga 15 dollar AS dan dijual 100 dollar AS. "Itu bukti perdagangan yang tidak fair untuk Indonesia sendiri yang memproduksi dan rakyat Eropa dan AS yang membelinya," tambahnya.
"Karena yang adil dan seimbang adalah kalau Anda beli lebih mahal, dan jangan dijual dengan harga yang sangat mahal supaya banyak barang yang laku sehingga masing-masing rakyat yang membuat dan membelinya di Indonesia dan Eropa saling diuntungkan. Kalau Anda beli terlalu murah, maka Anda merusak daya beli kita. Kalau Anda jual terlalu mahal juga, maka Anda merusak daya beli negerimu. Yang diuntungkan hanya banknya sehingga terjadi penggelembungan dan merusak ekonomi dunia," ujar Wapres Kalla.
Ditegaskan Wapres Kalla, "Jangan kita ini diperas oleh Nike. Beli 12 dollar AS dan dijual 100 dollar AS. Karena itu, sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengubah ekonomi dunia menjadi perdagangan yang adil dan seimbang.
"Karena siapa yang mengambil harga di tengahnya itulah yang hancur. Itu karena tidak fair trade. Dia hanya mengutamakan masalah-masalah nonfinansial," paparnya lagi.
Jika model perdagangan dunia seperti itu dipelihara, tambah Wapres Kalla, hal itu akan menyebabkan daya beli negara berkembang akan berkurang.
"Adapun negara maju pun daya belinya juga tidak berkembang, karena membeli mahal dan tidak ada keseimbangan," tandasnya.
Lebih jauh dikatakan Wapres, negara-negara yang dikunjungi sependapat dengan perdagangan yang adil dan seimbang agar tidak terjadi saling proteksionisme.
"Kalau Anda proteksi negerimu, negeri saya pun akan memproteksi negara saya. Kalau begitu semuanya, bisa hancur sistem ekonomi dunia," tambahnya.
Dikatakan Wapres Kalla, dengan krisis keuangan yang terjadi sekarang lebih mudah mewujudkan perdagangan yang adil dan seimbang. "Dulu di Doha susah, karena mereka merasa aman, sekarang tidak. Karena krisis," demikian Wapres Kalla.