Desa Petang berada di ketinggian 400 meter dari permukaan laut. Di sana, pohon murbai yang menjadi makanan ulat sutra mudah ditanam. Keadaan ini menginspirasi Imam Budijono, lulusan Institut Teknologi Tekstil Bandung, untuk menjadikan kain sutra khas Bali mendunia.
Imam bersama karyawannya merawat ulat sutra untuk dijadikan bahan pembuatan kain. Bila sebelumnya kepompong ulat sutra harus didatangkan dari Sulawesi, sejak 1990 Imam berhasil mengembangkan di Bali. Sebelum benang ditenun, pengrajin harus memproses hani atau pembuatan pola corak pada kain.
Proses pembuatan kain yang membutuhkan ketelitian dan keahlian khusus, membuat banyak penenun hanya mampu menyelesaikan kain sepanjang 20 sentimeter dalam sehari. Berbeda dengan Iman dan 130 karyawannya yang bisa memproduksi kain sepanjang 400 meter dalam satu bulan. Kain ini dijual Rp 60 ribu hingga Rp 400 ribu per helai, tergantung tingkat kerumitan disain dan corak.
Kini, impian Imam tercapai. Tenun sutra yang ia produksi mampu menembus pasar Jepang dan Eropa. Imam bahkan meraup omzet hingga Rp 100 juta per bulan.