Fenomena seperti ini menunjukkan masyarakat sedang 'sakit' secara ekonomi. Tekanan yang berat di tengah impitan kesusahan, memaksa masyarakat mencari jalan pintas.
"Kasus ini mengarah ke praktik penyembuhan paranormal. Tadinya masyarakat ingin berobat ke dokter, tapi karena mahal maka tidak jadi pergi. Malah ke dukun itu," kata Ketua Fraksi PKS Mahfudz.
Selain itu, lanjut Mahfudz, hal ini menggambarkan betapa lemahnya iman masyarakat. Sebab, scara rasional, mustahil sebuah batu bisa melenyapkan segala macam penyakit. "Sebagaimana dalam sebuah hadits bahwa kefakiran (kemiskinan) mendekati seseorang kepada kekufuran," imbuhnya.
Para ulama, ujar Mahfudz, baik dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), serta ormas-ormas Islam lainnya harus memberikan pendidikan. Sebab, pengobatan dengan unsur-unsur gaib tentunya tidak dibenarkan oleh ajaran Islam. "Jika ulama dan kita semua berdiam diri, maka akidah umat bisa semakin hancur," cetusnya.
Selain pengobatan medis (kedokteran), imbuh Mahfudz, Islam juga mengenal dengan adanya pengobatan non medis. Pengobatan tersebut merupakan perpaduan antara keduanya.
"Salah satunya dengan meminum madu dan bekam. Kita bisa mengunakan kedua-keduanya. Pengobatan dukun seperti itu kebenarannya hanya sebentar saja," kata dia.
Ponari yang tinggal di Jombang memiliki ‘batu sakti’. Batu itu, konon diperolehnya saat tersambar petir dan sempat beberapa kali dibuangnya. Namun, batu itu menurutnya selalu kembali ke dia.