Lawatan panjang Wapres ke empat negara, yaitu Jepang, AS, Belgia dan Belanda mempunyai arti yang sangat penting. Negara adidaya yang sedang kolaps, seperti AS dan negara-negara Eropa, dijadikan kesempatan emas untuk masuk ke pecaturan politik dunia.
Posisi Indonesia menguntungkan, karena dampak krisis ekonomi global di Indonesia tidak separah negara Asia lainnya. Apalagi AS dalam waktu yang bersamaan sedang mengalami krisis kepercayaan dari negara dunia, terutama negara-negara Islam, mengingat posisi AS yang berat sebelah dalam konflik Palestina-Israel.
Sementara Indonesia sebagai negara muslim terbesar yang menjalankan demokrasi, tetap konsisten membela Palestina. Hal itu menjadi poin tersendiri. Dalam pertemuan dengan Wapres AS Joe Biden, misalnya, Kalla menggunakan pendekatan ekonomi sebagai pintu masuk ke wilayah politik.
Ketika Biden menanyakan situasi ekonomi Indonesia dan bantuan apa yang diperlukan Indonesia, Kalla dengan jeli menggunakan kesempatan ini. "Ekonomi Indonesia baik, tidak terlalu berat. Kami tidak minta bantuan, tapi justru apa yang Indonesia bisa bantu ?," jawab Wapres.
Jawaban cerdas tersebut langsung menohok Biden. Hal ini tak mengherankan. Pasalnya, secara psikologis, setiap ada utusan yang datang ke negara adidaya tersebut, pasti ujung-ujungnya meminta bantuan AS. Namun, Kalla justru melakukan hal sebaliknya. Ini terjadi dalam 16 hari pemerintahan Presiden Barack Obama-Joe Biden.
Kemudian ketika ditanya saran apa yang bisa diberikan Indonesia untuk AS, Kalla pun menjawab dengan lugas, "Segera tuntaskan masalah Palestina. Kalau AS bisa selesaikan masalah Palestina, maka semua akan lebih mudah diselesaikan," ujarnya.
Wapres Joe Biden terheran-heran dengan pernyataan kedua ini. AS menyadari posisi strategis Indonesia sebagai mitra handal dalam memperbaiki citra buruk warisan pemerintahan George Bush.
Kedekatan Indonesia dengan negara-negara Islam, khususnya Palestina, Iran dan lainnya mampu menjadi "jembatan" penghubung kepentingan AS di Timur Tengah. Indonesia pun menangkap peluang itu dan segera menawarkan proposal perdamaian masalah Timur Tengah.
Ternyata peran Indonesia yang lebih aktif juga diharapkan dari negara-negara Eropa. Berawal dari permintaan Belgia yang ditandaskan lagi oleh Perdana Menteri Belanda Jan Peter Balkenender, yaitu agar Indonesia menjadi penyeimbang hubungan antara negara-negara Islam dan Eropa-AS.
Posisi Indonesia pun dipandang krusial di mata negara Eropa. Hal ini terlihat dari sikap PM Balkenender yang menyempatkan diri bertemu dengan Wapres Jusuf Kalla secara khusus di Den Haag, di tengah pertemuan tinggi para pemimpin Uni Eropa di London, Inggris.
Ide perdagangan yang adil sudah diperjuangkan di Putaran Doha maupun di pertemuan-pertemuan WTO. Namun selama ini berjalan tersendat. Krisis ekonomi global saat ini, bisa menjadi momentum untuk itu. "Selama ini kita selalu menerima perdagangan bebas (free trade) namun harus juga adil (Fair trade)," kata Wapres.