Bagi banyak negara, terutama di Eropa, resesi menjadi ancaman yang bisa melumpuhkan laju industri. Tapi ternyata, krisis global justru membawa pengaruh baik bagi industri mode Singapura, dan membawa negara kecil ini satu langkah lebih dekat untuk menjadi fashion capital di Asia. Bagaimana Singapura melakukan hal itu?
Jawabannya ada pada Audi Singapore Fashion Festival, yang baru melangsungkan debutnya minggu ini.
Bukan hanya itu. Kendati baru pertama kali diadakan, Audi Singapore Fashion Festival sudah mampu mengundang desainer kaliber internasional, seperti halnya Christian Lacroix, Vivienne Westwood, Marc Jacobs, Gareth Pugh, serta desainer Singapura kenamaan, Ashley Isham, yang kini bisnisnya berbasis di London. Tidak ketinggalan beberapa desainer lokal dan perancang Asia lainnya yang ikut berpartisipasi dalam ajang tersebut.
Apa yang menjadikan Singapura begitu cepat menggenggam bintang? Colin McDowell, Direktur Kreatif Audi Singapore Fashion Festival menyebutkan, resesi global yang terjadi, sedikit banyak memberi dorongan pada industri mode Asia untuk maju, terutama Singapura.
"Fashion adalah industri yang sangat kaya dan berkenaan dengan orang-orang berkantung tebal, dan resesi tidak serta-merta melumpuhkan mereka," ujarnya. "Dengan melemahnya industri mode di Eropa dan Amerika, mereka yang berduit itu mencari tujuan baru, dan Asia menjadi pilihan baru mereka. Bukan tidak mungkin masa depan fashion ada di Asia dengan Singapura sebagai salah satu fashion capital, layaknya Paris, London, Milan, atau New York," papar McDowell, yang juga berprofesi sebagai editor mode dan fashion stylist di negara asalnya, Inggris.
McDowell mengatakan, Singapura memiliki potensi untuk menjadi pusat mode Asia. "Saya pernah mengunjungi Singapura beberapa tahun lalu, dan saya punya firasat suatu saat negara ini akan menjadi besar di dunia mode," katanya. Menurut dia, kelebihan Singapura terletak pada karakternya yang lekat dengan gaya Western. "Di sini semua orang berbahasa Inggris dan itu adalah kelebihan bila Singapura mau memanfaatkannya, bukan tidak mungkin negara ini akan menjadi pusat mode di Asia, selain Tokyo dan Hong Kong," kata Senior Fashion Editor di London Sunday Times ini.
Selain itu, kendati ekonomi Asia sempat terpukul oleh krisis global, Singapura terbukti bisa bertahan. Industri wisata Singapura terus menumpuk pundi-pundi dari turis internasional yang berkunjung, baik untuk sekadar menikmati pemandangan, melihat pertunjukan yacht atau memanjakan lidah dengan mencicipi ragam menu dari berbagai tempat di dunia yang terkumpul di Singapura.
"Adanya Fashion Festival akan semakin menarik turis internasional ke Singapura," sebut Tjin Lee, Managing Director Mercury Marketing & Communications, penyelenggara acara. "Kami menyadari bahwa negara ini bukanlah totem pole dari para desainer internasional papan atas layaknya Paris atau New York, tapi kami menuju ke sana langkah demi langkah," sebutnya.
Lee mengungkapkan, dengan melakukan itu, secara perlahan Singapura akan menjadi tempat saat desainer sekelas Lacroix, Westwood, atau Pugh akan kembali menggelar karyanya. "Dan tentu saja dinikmati oleh fashionista, tidak hanya di Singapura, juga di seluruh Asia, yang kemudian diberitakan media internasional. Itu adalah mimpi kami," paparnya, seperti dilansir Reuters.
Adapun untuk ajang tersebut, Lee mengharapkan lebih dari 6.000 orang akan hadir. "Kami optimistis dengan jumlah tersebut," tuturnya, merujuk pada adanya tambahan 600 tiket untuk mengantisipasi lonjakan pengunjung.
Di atas catwalk, Lacroix membuat fashionista Asia terhipnotis dengan koleksi couture yang menggambarkan kebebasan berekspresi seorang wanita dalam warna, detail, dan ornamen aplikatif. Sementara Pugh menarik perhatian melalui koleksi bergaya edgy dengan garis dan cutting yang tidak biasa. Di sisi lain, Dame Westwood menghentak panggung dengan menghadirkan barisan busana bernapas muda yang kental dengan unsur rock n roll dan warna-warna agresif. Adapun Ashley Isham menampilkan barisan gaun cantik dalam kemasan feminin dengan bunga, pita, dan renda.