cuplik.com - JERUSALEM, Penghitungan cepat, Selasa (10/2) malam, memperlihatkan, partai berhaluan tengah Kadima yang dipimpin Menteri Luar Negeri Tzipi Livni unggul dalam pemilihan umum Israel.
Menurut persentase suara yang dikumpulkan masing-masing partai dalam pemilihan umum 15 jam tersebut, Kadima mengantongi 30 kursi di parlemen (Knesset), yang memiliki 120 anggota.
Pesaing utamanya, partai sayap kanan Likud, memperoleh 28 kursi, demikian jajak pendapat oleh stasiun televisi Israel Channel 10.
Menurut penghitungan cepat itu, partai ultra nasional Israel Beiteinu (Israel Tanah Airku) dan partai sayap kiri Buruh masing-masing mendapat 15 dan 13 kursi, dan partai ultra Ortodoks Shas mengumpulkan 9 kursi.
Survei lain yang dilakukan oleh Channel 2 juga menempatkan Kadima di posisi pertama dengan 29 kursi, Likud di tempat kedua dengan 27 kursi, yang kemudian diikuti oleh Israel Beiteinu, Buruh, dan Shas masing-masing dengan 15, 13, dan 10 kursi. Hasil angket stasiun TV Channel 1 pun memberi hasil serupa, yaitu 30 kursi, 28, 14, 13, dan 9.
Hasil akhir diperkirakan disiarkan sebelum fajar Rabu waktu setempat (Rabu siang WIB), dan Komite Pemilihan Umum Pusat di Israel dijadwalkan menyiarkan hasil resmi pada 18 Februari.
Jajak pendapat tersebut memutarbalikkan temuan kebanyakan angket terdahulu yang menunjukkan Likud meraih keunggulan tipis dalam persaingan ketat antara kedua peserta utama pemilihan umum.
Kalau saja kemenangan Partai Kadima benar-benar terjadi, Livni (mantan agen Mossad tapi beraliran moderat) sangat mungkin akan kembali menerima mandat presiden guna membentuk pemerintah baru. Karena, biasanya presiden Israel memberi tugas pembentukan pemerintah kepada pemimpin partai terbesar di parlemen.
Namun, mengingat terkotak-kotaknya kenyataan politik di Israel, misi pembentukan kabinet terbukti sangat sulit dilaksanakan karena setiap calon perdana menteri harus menghimpun koalisi melalui tawar-menawar yang alot.
Tak lama sebelum pemungutan suara berakhir, Livni mengatakan ia bersedia membentuk koalisi dengan Likud dan Buruh. Masih belum jelas bagaimana mantan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Ehud Barak—pemimpin dua partai besar Israel—akan bereaksi.
Seandainya Livni berhasil membentuk pemerintah, Menteri Luar Negeri Israel tersebut akan menjadi perempuan kedua sebagai perdana menteri dalam sejarah Israel. September tahun lalu, Livni gagal membentuk kabinet guna menggantikan pemerintah sementara yang dipimpin Perdana Menteri Ehud Olmert, yang meletakkan jabatan, sehingga menghasilkan pemilihan umum keempat dalam waktu satu tahun lebih dulu dari jadwal aslinya.
Sampai pemerintah baru dibentuk, Olmert—yang dipaksa meletakkan jabatan di tengah skandal korupsi—akan tetap memangku jabatan.