"Mindset konsumen Indonesia selama ini masih berpikiran merek internasional itu adalah, Nokia, Samsung, ataupun Sony Ericsson. Jarang yang mengira kalau Samart I-mobile itu juga merek internasional," ucap Rifky Gumilrang S, Assistant Manager Retail Chanel Management Manager Samart I-Mobile, saat konferensi pers, di Restorant Seribu Rasa, Jakarta, Selasa (26/5/2009).
Tugas berat pun menanti vendor yang satu grup dengan XL tersebut. Tahun ini Samart I-mobile akan lebih gencar memberikan berbagai layananan dan pendidikan mengenai produk mereka di gerai-gerai yang tersebar di seluruh kota di Indonesia. Karena, menurut Rifky, di tingkat dealer pun sering terjadi salah kaprah, yang menyebutkan kalau I-mobile adalah ponsel China, yang mereknya hanya ada di Indonesia.
Strategi lain yang akan dihadapi oleh vendor tersebut adalah menciptakan sebuah roadmap mengenai beragam sistem operasi yang akan dibenamkan di ponsel nantinya. Mulai dari Windows Mobile, sampai dengan Google Android yang saat ini tengah menanjak popularitasnya.
"Kita tidak mau seperti ponsel China yang saat lagi trend Blackberry, bikin ponsel yang mirip-mirip BB, untuk meningkatkan penjualan. Bagi I-mobile, kepuasaan pelanggan adalah yang paling utama," tandas Rifky.
Jauh dari arus tren itulah yang membuat I-mobile masih bertahan pada desain-desain yang konvensional dengan keyboard numeric, misalnya. Bahkan, membenamkan TV tuner masih tetap menjadi menu utama mereka untuk berjualan. Meskipun nampaknya, tren TV tuner sedikit meredup.