"Yang bisa kami bilang, tertawa sudah berumur 10 hingga 16 juta tahun," kata primatologist University of Portsmouth, Marina Davila Ross, salah satu peneliti riset yang dipublikasikan di journal Current Biology.
Sementara peneliti lain yang khusus mempelajari tawa pada binatang, Jaak
Panksepp dari Washington State University mengatakan tawa jauh lebih tua. "Aku berpendapat tertawa telah terjadi di spesies mamalia setua tikus," katanya.
Selama bertahun-tahun Panksepp dan koleganya mendokumentasikan vokal yang dikeluarkan tikus, sama seperti manusia jika digelitik. Mereka berpendapat, suara seperti itu menunjukkan tawa dan kesenangan sosial.
Penelitian yang dilakukan oleh Davila Ross dan koleganya dari Georgia State
University Michael Owren dan Elke Zimmermann dari University of Veterinary Medicine di Hannover Jerman mendukung adanya tawa pada binatang. Mereka meneliti spektrum suara bayi, kera besar serta siamang.
Mereka menetapkan tujuh variable diantaranya panjang suara, pola nafas keluar dan masuk, serta getaran vokal. Semua itu dimasukkan ke program komputer dan mencari hubungan antar data.
Hasilnya menunjukkan adanya hubungan evolusioner antar spesies. Siamang hanya mirip dalam satu kelompok saja. Simpanse sangat dekat antara satu dengan lainnya, termasuk dengan manusia.
"Itu pola yang menarik," kata Davila Ross. Ia mengungkapkan, pola tawa bayi manusia ada kemiripan dengan pola vokal simpanse.