Demikian bunyi artikel sebuah surat kabar milik pemerintah Suriah yang dikutip Reuters, Senin (15/6/2009).
"Netanyahu tidak bersikap moderat dalam posisinya. Dia hanya ingin membuang waktu," tulis harian Al Thawara.
Ditambahkan, AS memiliki pilihan untuk meninggalkan kehancuran di Timur Tengah atau berusaha terus menekan Israel untuk membuktikan bahwa perdamaian bukanlah fantasi, namun sebuah kebutuhan mendesak untuk mencapai stabilitas. "Biarkan dialog dimulai."
Al Thawara juga menulis bahwa Netanyahu tidak memberikan sesuatu yang lebih, kecuali membatasi kewenangan pemerintah yang akan dibentuk Palestina.
Dalam pidatonya Netanyahu mengatakan, akan mengakui negara Palestina dengan syarat, pemerintahan yang terbentuk tidak boleh memiliki kekuatan militer.
Selain itu, bangsa Palestina juga harus mengakui Israel sebagai negara Yahudi serta menolak menghentikan ekspansi permukiman Yahudi di tanah pendudukan, Tepi Barat dan Yerusalem.