Sebelumnya, pekan lalu, Perdana Menteri (PM) Turki Tayyip Erdogan menyatakan, telah terjadi upaya genosida di Xinjiang dan meminta otoritas China turun tangan.
"Tak ada genosida. Sebagian besar warga tewas dalam bentrok antara etnis Han China dan Uighur. Yang mana yang dikatakan genosida," kata juru bicara PM China Qin Gang dengan nada tanya.
"Kami berharap saudara muslim kami dapat memahami kenyataan yang terjadi pada insiden Urumqi, 5 Juli silam. Saat mereka mengetahui kenyataannya, mereka semestinya mendukung kebijakan kami terkait persoalan agama dan etnis dan langkah pemerintah China dalam menyikapi insiden tersebut."
Menteri Luar Negeri China Yang Jiechi mengatakan kepada Erdogan via telepon bahwa kerusuhan di Urumqi adalah tindak kriminal yang dilakukan tiga kekuatan jahat, yaitu ekstremisme, separatisme, dan terorisme.
Sementara ketegangan masih terjadi di Urumqi sampai kemarin. Banyak tempat bisnis tutup dan sebuah masjid juga tutup.Keadaan ini menyusul insiden tewasnya dua warga Uighur sehari sebelumnya.
Sekelompok anggota polisi berjumlah besar dengan senjata semi-otomatis dan tongkat pemukul berusaha membubarkan muslim Uighur yang Senin itu kembali melakukan aksi demo yang berujung pada kekerasan dan kembali memakan korban. Otoritas China menyampaikan, dua warga Uighur yang dituduh telah melakukan tindakan melawan hukum tewas tertembak.
Tindakan represif polisi juga membuat seorang warga Uighur dikabarkan mengalami cedera. Penembakan berdarah di Ibu Kota Xinjiang yang terletak di barat laut China tersebut terang saja kembali membuat suasana tegang tak kunjung mereda semenjak kekacauan pertama merebak pada 5 Juli lalu dan menewaskan 184 orang.