Cuplik.com - “Akika mawar kencana ma’e, tunggang ya” gelas gendut berisikan cassanova diletakkannya di meja, setelah sepertiga airya diseruput bibir merahnya. Gemulai langkah diiringi gerakan genit, seolah memerintahkan seluruh jaringan otakku untuk bergerak ke kiri-kanan, disertai senyum setengah sinis hasil dari ambang sadar. Bahasa apa yang diucapnya barusan, juga tak kumengerti. Sama sekali. Sesaat kemudian diapun berbelok, masuk ke toilet di sudut Café. Wanita dengan rok mini dan baju tanpa lengan itu bernama Dara, entah itu nama aslinya atau hanya salah satu dari belasan atau puluhan nama samarannya. Manik mataku sedari tadi tak henti, melihat beragam model pakaian setengah jadi, mondar mandir tak tentu arah.
Sudah dua hari aku bekerjadi Café yang remang-remang ini. Café dengan suasananya yang mirip dengan rumpun bambu di samping Langgar di kampung halamanku. Kerlip kunang-kunang hampir serupa dengan lampu Café, hidup mati.
Menjadi seorang guru privat Bahasa Inggris untuk pemula tak mencukupi segala keperluanku. Jadilah, aku bekerja dengan bantuan seorang kenalan sebagai Cleaning Service di tempat ini. sebenarnya, aku sendiri tak ingin yang muluk-muluk. Hanya pengeluaran-pengeluaran yang bersifat primerlah yang selalu kudahulukan. Jarang sekali sesuatuyag tidak begitu penting, kucoba tukmembeli. Aku sadar, anak kos seperti aku masih butuh banyak biaya, dari masalah-masalah yang mungkin bagi sebahagian orang adalah hal yang sepele,tapi bagiku tidak. Yach… membeli odol dan sabun saja sudah membuatku kehilangan ongkos tiga hari ke kampus. Tekadku terlalu besar. Terlalu berani melanjutkan study, walau sadar tak punya materi.
***
Sepatu-sepatu tinggi itu hilir mudik di lantai mar mer hitam. Aku tak tahu seudah berapa kali kusapu agar tetap mengkilap. Aku tak melihat, kapan Dara kembali duduk di situ, tempat dimana dia meninggalkan teman seprofesinya dan si Om berkumis tebal dengan matanya yang gatal.
Tripel Civas Regal yang baru saja diantar seorang Waiter direguknya hingga tak bersisa. Miris hatiku melihatnya. Kalau saja uang yang dipakai si Om untuk jajan itu disedekahkan kepada anak yatim, orang miskin atau ynag membutuhkan, ya….seperti aku ini, mungkin gak akan tercipta lingkungan kumuh di emperan-emperan sungai, kolong jembatan atau mereka yang tidur di pinggir-pinggir jalan dan berteduh di sisi-sisi pertokoan.
Sekilas kulihat tangan si Om mulai menjelajar di manis raut wajah Dara. Temannya tak lagi duduk bersama mereka. Kelihatannya sudah mendapat mangsa yang lain. Kali ini seorangkakek yang tinggal satu kalender lagi, pantasnya sudah takmampu berdugem ria. Namun, teman Dara terlihat tak perduli, siapa laki-laki yang tengah dirayunya, duduk bernanja di pangkuan si kakek. Sekali lagi, kembali hatiku miris.
Terlalu sadis kehidupan mereka. Pantas saja sekarang banyak orang yang bilang bahwa hewan lebih berperasaan, beradab dan berbudi ketimbang manusia itu sendiri. Tapi, tetap saja manusia bersikap egois, tidak pernah mau disebut hewan. Selalu hewan yang disalahkan. Atas perbuatan yang menyimpang maka kepada kambing hitamlah ditangguhkan aib, ada permasalahan maka hukum rimbalah yang ditegakkan, serta hal-hal bodoh yang dilakukan manusia, nasib keledai jadi imbas ejekan. Aneh memang.
***
Kuakui, di hari perdanaku bekerja, Dara telah mencuri perhatianku. Hari itu, sekitar pukul tujuh lebih seperempat, usai maghrib, dan Café belum beroperasional. Dara datang dengan baju kemeja biasa dipadu dengan celana Lee yang juga terkesan biasa. Tak ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa dia adalah Dara-Sang Penggoda.
“Maaf Mas, permisi, toiletnya sedang dibersihkan ya?” “Mmm…iya eh udah Mbak, silahkan kalo mau dipakai. Mari, permisi” gelagap jawabanku semakin membuat senyumannya mengembang, memperlihatkan gigi putihnya yang rapi seperti biji mentimun.
Agak lama juga dia di dalam toilet. Hingga sempat aku berfikir yang tidak-tidak, apa yang dilakukannya di toilet. Belakangan ini, banyak sekali orang stress dan berbuat yang tidak diizinkan Allah, bunuh diri. Tapi, semua dugaanku terhapus setelah handle pintu bergerak. Pura-pura kusapu lantai di depan pintu toilet tersebut.
Betapa terkejutnya aku. Dandanan Dara berubah. Seolah ada pesulap ilmu hitam di dalam toilet, merubah Dara, sexi sekali. Tercengang aku melihatnya, dimana etika manusia? Zaman apa ini?
Sigap kutinggalkan tempat dia berdiri. Tapi, pertanyaannya memaksaku untuk berbalik. Ingin kututup mataku, namun kurasa imanku masih kurang mantap, mengalah hany karena alasan menghargai seseorang.
“Mas, baru ya di sini?” pertanyaan keduanya. “Iya, Mbak” “Dara, nama saya Dara” telapak tangannya diulurkan kepadaku. “Budi” tak kusentuh uluran tangannya, dan diapun menarik kembali. “Kenapa Mas? Tadi kok begitu melihat saya, seperti barumelihat syeitan. Mas seperti tergesa-gesa. Ada apa?” “Ach..gak pa-pa. Saya Cuma heran, kenapa si Mbak ganti pakaian di sini?” senyumannya yang buat hatiku keki kembali tersimpul. Padahal jauh dalam hatiku sendiri, aku ingin teriak – Ya aku memang melihat syitan keluar dari toilet.
“Ya…mau gimana lagi Mas. Kalo dari rumah pake ginian, ntar tetangga-tetangga bilang apa. ‘Kan malu Mas” “Emang, kalo di sini, Mbak gak malu? Saya kan manusia juga Mbak. Trus, apa Mbak gak malu ama Tuhan, lagi pula anehkalo si Mbak ini gak takut masuk neraka, ntar kalo tiba-tiba pada saat ini nyawa Mbak dicabut, gimana?” Tanpa rem, kata demi kata itu muncrat dengan lancarnya dari mulutku. Kalimat barusan begitu tajam, matanya menghunus wajahku. Dia menoleh dan berjalanke sebuah sofa yang belum kurapikan. “Nasib Mas” ucapnya lirih. “Nasib?” “Ya, nasib yang membawa langkah kaki ke sini, ke tempat hina dina ini” aku diam tanpa suara. Dan, Dara pergi meninggalkanku yang terpaku begitu saja. Seolah dibungkam aku nyaris membisu.
Walau dibenakku, berjuta tanda Tanya menari dan berharap keluar dibantu sang lidah. Tapi, jelas…imanku masih lemah. “Jika kamu melihat sekelilingmu ada yang melakukan hal-hal yang dilarang Allah, maka kewajibanmu untuk mengingatkan mereka. Ya…misalnya saja, dengan tangan atau kekuasaan, trus dengan teguran atau jika tidak mampu juga, paling tidak dengan hatimu sendiri, itu sabda Rasulullah anak –anak…” terngiang di gendang telingaku, perkataanguu ngaji dulu di Langgar, waktu aku masih anak-anak. Namun, diam mematung adalah hal yang kulakukan saat itu.
Seperti Dara, bias-bias temaram cahaya telah berbaur dengan lenggak-lenggok wanita-wanita tak berbusana. Semua hanya mengenakn topeng. Menutup hanya pada bagian-bagian tertentu dan lainnya dibiarkan tak terbalut. Ingin rasanya detik itu aku menjerit – Siapa tukang jahit mereka?-
***
“Dara adegan temong tu di Sandra. Kano mawar, intre? Kalo kanoa mawar ambarawa ajija” seorang gadis dengan angkuh mengepulkan asap rokoknya, membentuk lingkaran-lingkaran putih berbentuk awan yang kemudian hilang berbaur dinginnya AC. Dara menoleh, “Tengkyu nong, berepong? Tiga utas ubir janda? Short time tuch?” berondongan pertanyaan dijadikan jawaban atas pertanyaan temannya. Langkah anggunnya diayunkan, mengarah ke sseorang laki-laki paro baya, tepat di sampingku.
Raut wajahnya menunjukkan bilur-bilur letih bercampur penat. Sapu ditanganku masih mengayun seirama dengan nada lagu klasik, mengalun di seantero Cafe, sudut mataku melirik laki-laki yang kini merangkul bahu Dara. Sepertinya aku mengenal pria tersebut. Beliau mirip dengan tetangga ibu kos, seorang pengusaha yang sedang dirundung hutang. Gosip tetangga-tetangga ibu kos. Tak kulihat lagi dimana mereka. Gemerlapan Cafe seolah menelan mereka hidup-hidup, raib dalam dosa. Ach...dosa, ingin kukutuk diriku sendiri. Sucikah aku? Ya, Dara benar. Nasib yang menghantarkanku ke tempat nista ini. Nasib jualah yang mempertemukan aku sosok Dara. Jauh di relung hati, kurasakan jeritan kecaman keras memarahiku. Mengutukku. Bodoh, aku bodoh.
“Uding dibelimbingkan ma’e? Lmreta lambada sekalsa. Dimandra diana? Nantra kasiantar diana” seorang perempuan berumur dengan baju yang tak sesuai dengan usianya, menghardik kasar pada teman Dara. “Uding ma’e” jawabnya agak takut. Aku teringat bahasa aneh yang mereka gunakan, kalo tak salah termasuk dalam kategori bahasa slang, yang biasanya dipergunakan oleh kelompok-kelompok tertentu.
Tak kuhiraukan lagi segala perbuatan mereka selanjutnya. Serokan , sapu dan tong sampah sudah kurapikan. Sebentar lagi pulang, tinggal temanku, shift selanjutnya yang menerusan pekerjaanku. Sampah-sampah sudah terbungkus plastick black, nanti akan kubuang ke belakang Cafe, agak sedikit jauh memang. Agar aroma busuknya tak tercium pengunjung.
Tepat pukul sebelas, staft yang menggantikanku sudah datang dan memulai pekerjaannya. Telapak sepatuku menjejak di lantai baru saja kupel sudah kukotori kembali. Mirip dengan apa yang terjadi pada diri dan hatiku. Susah payah dibersihkan dengan ilmu penetahuan, eh..malah aku sendiri yang mengotorinya dengan pekerjaan syubhat. Aku bingung, pekerjaanku halal. Hanya menyapu. Tapi, itu tempat maksiat. “Hh...” kuambil desahan panjang. Sama juga halnya dengan Bika Ambon nan lezat, kupikir. Yang halal dan haram diobok-obok dalam satu adonan, toh masih banyak orang berilmu yang mengkonsumsinya.
Kupandangi papan nama Cafe – KAHLUA CAFE -, diambil dari nama salah satu minimanberalkohol hasil dari air seni syeitan. Kerlip bintang menaungi malam gelap. Baru saja kakiku melangkah hendak menyeret plastick black penuh sampah, Dara dengan parau suaranya termakan alkohol dan angin malam serta rokok berbagai jenis, memanggil namaku. Tanpa satu kata pun dari ku. Tak ada henti, Dara bicara: “ Kamu benar, aku salah. Seharusnya aku lebihmalu pada Tuhan. Aku juga tahu, kalo bukan aku sendiri , siapa lagi yang akan merubah nasibku, aku ini bodoh, laki-laki tadi merampokku. Ah...padahal inang germoku sudah memperingatkan kami, cuma saja aku tak tahu. Ah...Ha..Ha..Ha...” tawanya memecah malam . “kok gak lapor polisi?” tanyaku perlahan. Ha..Ha..Ha... Bud, Bud.. lapor ke kak polan tambah bahaya. Sama saja menyerahkan diri hidup-hidup” berbaur bahasa tak jelas itu, tawanya mengusik pejalan kaki sekitar Cafe. “Bud, pulanglah dan jangan kembali ke sini lagi besok, kau tak pantas di sini. Ini bukan tempatmu”. Kertas putih remuk diberikannya padaku, agar dimasukkan ke dalam plastick black. Dara berlalu, tenggelam dalam binar-binar candle light dan lampu Cafe yang redup. Oh.. kurasa kunang-kunang di kampung masih saling bergabung dengan temaram teman sekelompoknya, menghabiskan sisa malam yang disangka panjang.
Kalimat panjang Dara melambungkan akalku. Mendongakkan kepalaku. Diatas sana bintangmasih berkelip. Kumantapkan hati untuk tidak kembali ke tempat kedua tungkai kakiku berpijak kini.
***
“Tiga sosok mayat sudah teridentifikasi, ketiganya adalah, Loli Sagala, empat puluh tahun, seorang germo yang tengah diincar polisi, Robin Wicaksono, 18 tahun, seorang pelajar SMU swasta dan seorang PSK bernama Anita Dartasita yang berusia 24 tahun, mahasiswi sebuah perguruan tinggi swasta..” sarapan pagi sebelum berangkat ke kampus tak ku sentuh. Reporter televisi memberitakan HOT NEWS yang baru saja terjadi dini hari tadi. KAHLUA CAFE meledak. Segalanya rata dengan tanah.
Tercenung aku memandang raut wajahseorang korban yang terlihat sedang di masukkan ke dalam plastick hitam oleh Petugas Kepolisian dan Rumah Sakit. Dara. Tak ada kesempatan untuk menariknya dari jurang hitam itu. “Bud, itu tho tempat kamu kerja selama ini? Tempat gak benar rupanya” Tatapan sinis ibu kos menghujam tepat di wajah sok polosku.
***
Peluh punmasih bernaung
di celah bulu halus kepalaku
Tak elak tuk lupakan
Penat yang merajai tubuhku
Aku seperti anjing lapar
Melihat sebongkah tulang belulang
Sisa anjing liar tadi malam
Hanya saja...
Aku tak sanggup untuk menggonggong
Kertas remuk malam tadi ku buka dan kubaca. Tak sadar, tadi malam ku masukkan kedalm saku jaketku. Tulisan Dara. Mungkin dia letih akan dosanya. Gak beda dengan diriku sendiri. Kalimat terakhir darinya membisiki pendengaran. Ya...Dara, aku memang tak pantas di sana. Nasib bisa kita lawan dan kita ubah, jika kita punya tekad.
Sepotong malam yang dibagi untukku dan Dara, didik hati agar tak lagi menjalani langkahkiri. Kunang-kunang hanya bisa rindu mentari. Tapi, masih punya arti tuk beri damai di hati.
Buat seorang Waitress dan Bartender
13 September 2004
Note:
Akika mawar kencana: ma’e, tunggang ya: Aku mau buang air kecil, tunggu ya, jajan: mengunakan jasa PSK/ mabuk-mabukan, Dugem: dunia gemerlapan (biasanya menyebut tempat-tempat yang beroperasi di malam hari), adegan temong tu di sandra, kanoa mawar intre?: ada tamu tu disana kamu mau tidak? Ambarawa ajija: ambil saja, tengkyu nong, berepong? Tiga utas ubir, janda? Makasih teman, berapa? Tiga ratus ribu jadi? Short Time: batas waktu pelanggan PSK, Uding dibelimbingkan, mae? Lamreta lambada selkalsa. Dimandra diana? Kasiantar nantra: udah dikatakan? Lama sekali. Dimana dia? Kasihan nanti dia. Kak Polan: Polisi. Cassanova: Cocktail/ campuran Hard Drink atau minumian keras berwarna merah jamb. Chivas Regal Tripple: Jenis Whisky berukuran tiga kalijiger atau tiga oz. Kahlua: Jenis Liquer yang biasanya dicampur dengan kopi.
Eka agustina Daulay
d/a : Jl. Bj. Katamso Gg. Kenangan no. 155
Medan 20158
Sumatera Utara
Indonesia