Kemungkinan kedua, anak-anak tersebut mendapat pola asuh dan pendidikan soal agama yang kurang tepat. Akibatnya, terorisme tumbuh subur. "Jika nilai-nilai ajaran agama universal yang diberikan kepada siswa tentu tidak mungkin terorisme akan subur dengan baik. Tetapi jika pemahaman parsial, tekstual dan idiologis yang diajarkan, maka mendorong faham radikalisme menjadi berkembang," kata Giwo.
Kemungkinan ketiga karena proses imitasi atau karena sekadar ikut-ikutan di lingkungannya. "Oleh karena itu, atas nama kemanusiaan dan kemaslahatan, kita harus perang terhadap terorisme, dengan tetap melindungi anak Indonesia dengan pendekatan yang responsif hak anak," ujar Giwo. Untuk mengantisipasi kemungkinan tersebut, Giwo mengimbau Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) dan Departemen Agama (Depag) untuk mengevaluasi total pendekatan pemahaman agama yang menjadi doktrin pendidikan di sekolah-sekolah, baik sekolah umum maupun model boarding school.