"Sultan Hamengku Buwono X adalah sosok yang paling mungkin diusung oleh PKS," ujar pengamat politik Universitas Parahyangan Adrianus Harsawaskita, saat berbincang dengan INILAH.COM, di Jakarta, Kamis (19/2).
Menurutnya, sosok Sultan merupakan sosok populer tapi lemah. Sebab, ia tidak memiliki kendaraan politik dan dukungan yang riil. Selain itu, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta itu sudah memberi ‘harga mati’ bahwa dia hanya mau menjadi capres, bukan cawapres.
Berdasarkan hal-hal tersebut, Adrianus menilai besar kemungkinan PKS akan siap menjadi kendaraan politik bagi Sultan. Namun dalam mencalonkan Sultan, PKS tidak mungkin menjadi gerbong alternatif secara tunggal. "Akan menjadi citra yang jelek bagi Sultan," jelasnya.
Hal ini, kata Adrianus, karena orang-orang yang berada di belakang Sultan adalah orang-orang Kejawen. Hal ini, secara tidak langsung bertolak belakang dengan basis massa PKS yang umumnya Muslim perkotaan.
Menurutnya, PKS masih membutuhkan dukungan dari partai-partai besar untuk menggagas koalisi alternatif dalam mengusung capres alternatif. Ini dikarenakan dalam 1-2 tahun ke depan seorang presiden harus memiliki paket ekonomi terkait. Dengan begitu, presiden tersebut harus dapat menguasai parlemen.
Dua partai baru dan mempunyai kekuatan yang signifikan Hanura dan Gerindra tidak bisa dimasukkan ke dalam konfigurasi koalisi ini. Hanura semakin lama semakin hilang, sementara Gerindra yang kini meningkat memiliki kekuatan di sektor finansial. "Tapi Gerindra tidak mempunyai pengalaman di Parlemen," tambah Adrianus.
Menurutnya, parlemen akan tetap dikuasai oleh partai-partai besar dan partai lama. Partai Golkar, PDIP, dan Partai Demokrat. Jika harus memilih, maka PKS akan memilih untuk merapat ke Partai Golkar untuk membentuk koalisi alternatif.