Guru Besar Universitas Negeri Jogja Suroso(8/8), mengatakan, kurang diminatinya pelajaran Bahasa Indonesia karena faktor guru yang tidak bisa mengajak siswa untuk menyenangi Bahasa Indonesia. Suroso mengatakan, guru yang tidak bisa mengajak siswa untuk menyukai Bahasa Indonesia, berarti guru tersebut tidak memiliki kemampuan berbicara yang baik kepada siswa, selain guru juga dinilai tidak memiliki wibawa, sehingga siswa tidak tertarik mengikutinya.
Padahal, lanjutnya, jika guru bisa mengajak siswa untuk cinta bahasa Indonesia, maka akan banyak siswa yang memiliki harapan untuk bisa hidup lebih baik dari kepiawaian bertata bahasa dan dari gaya bahasa yang diungkapkan. Ia mencontohkan, para penceramah, untuk ceramah agama, budaya, dan bidang disiplin ilmu lainnya jika mampu membawakan dengan baik, maka ia akan laris diminta menjadi narasumber di berbagai kegiatan.
Namun, meski orang tersebut ahli di bidang tertentu, sedangkan yang bersangkutan tidak memiliki kemampuan untuk merangkai kata dalam berceramah, maka orang tersebut akan jarang diminta untuk menjadi narasumber atau apa pun bentuknya. Sama juga dengan profesi sebagai wartawan, maka dengan kemampuan merangkai kalimat dan mudah dipahami banyak orang, maka akan menjadi wartawan hebat dari kemampuan berbahasa Indonesia, kata Suroso.