cuplik.com - JAKARTA, Jumlah pemilih golongan putih atau yang tidak menggunakan hak pilihnya, baik karena alasan teknis maupun berdasarkan niat, akan melonjak tajam pada pemilu legislatif serta presiden dan wakil presiden mendatang. Menurut Pengamat Politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Hermawan Sulistyo atau Kiki, ada sejumlah penyebab mengapa pemilih golput meningkat.
"Pertama, kalau kita lihat, tidak ada satu parpol pun yang benar-benar mengarah kepada pemilih muda, yaitu pemilih yang baru pertama atau kedua kalinya menggunakan hak suara mereka. Padahal, secara nasional, jumlah mereka mencapai 15 persen hingga 18 persen," ujar Kiki seusai peluncuran buku Pidato-Pidato yang Mengubah Dunia oleh Penerbit Esensi, Jumat (20/2) di Gramedia Mal Grand Indonesia Jakarta.
Penyebab kedua, lanjutnya, masyarakat sudah terlanjur kecewa dengan kinerja para pemimpin dan anggota dewan saat ini. Sebelumnya, sudah banyak anggota dewan yang diseret ke Pengadilan Tindak Pidana Korupsi akibat dugaan korupsi. Sebagian di antaranya bahkan telah diganjar hukuman karena terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi. Yang lebih mengkhawatirkan, sambungnya, berdasarkan survei-survei pemilu, 80 persen pemilih tidak mengenal calon-calon anggota legislatif di daerahnya masing-masing.
Kemudian, Kiki memberikan komentar terhadap fenomena partai-partai tengah yang saat ini bermunculan, seperti Gerindra dan Hanura. Menurutnya, partai-partai tersebut tidak akan memperoleh suara yang signifikan karena hanya menggerogoti basis pemilih yang sudah ada, bukan membangun basis yang baru.
"Saya rasa mereka akan berkutat pada perolehan suara tidak lebih dari 10 persen. Ini politic zero sum game. Kekuatannya tidak akan menjadi besar. Mereka tidak akan menjadi king maker, kecuali tiga atau empat partai bersatu," ujarnya.