Menjelang pelaksanaan Pemilu, upaya mengawinkan satu tokoh dengan tokoh lainnya cukup lazim. Seperti tiba-tiba turun dari langit, muncul wacana SBY-AT setelah Jusuf Kalla menyatakan siap menjadi kandidat calon presiden Partai Golkar. Kabarnya, wacana ini cukup serius karena didukung koneksi HMI di Demokrat.
Wacana duet SBY-AT seperti menggantikan SBY-JK yang selama 4,5 tahun sudah berjalan. Duet ini diyakini bakal disokong penuh oleh jaringan HMI di internal Partai Demokrat dan inner circle SBY. Akbar dalam beberapa tahun terakhir membidani dan aktif di Barisan Indonesia (Barindo), setelah tergusur dari Golkar.
Barindo adalah organisasi kumpulan penyokong SBY saat Pilpres 2004 lalu. Kini, Barindo tak lagi terang-terangan mendukung SBY. Apalagi, dewan pembina M Yasin kini bersebarangan dengan SBY dan membentuk Partai Pakar Pangan.
Sedangkan jaringan HMI di Partai Demokrat tak kalah banyak dengan di Partai Golkar. Dengan masuknya Anas Urbaningrum, mantan Ketua Umum PB HMI (1997-1999), di jajaran pengurus harian Partai Demokrat seperti menjadi penanda, gerbong alumni HMI mulai masuk di partai politik pimpinan Hadi Utomo itu.
Menurut Direktur Riset The Akbar Tandjung Institute, M Alfan Alfian, SBY-AT secara otomatis akan menggunakan jaringan HMI di Demokrat dan inner circle SBY. “Secara otomatis itu (menggunakan koneksi HMI),” cetusnya kepada INILAH.COM, Senin (23/2) di Jakarta. Menurut dia, alumni HMI di Partai Demokrat cukup banyak.
Kendati demikian, dosen FISIP Universitas Nasional (Unas) ini mengaku, Akbar biasa saja dalam merespon wacana duet SBY-AT. Akbar juga tidak melakukan operasi politik berskala serius atas wacana tersebut. “Nggak ada operasi-operasi politik serius,” ungkapnya.
Sulit meyakini jika Akbar tidak serius memainkan wacana duet SBY-AT ini. Meski hingga kini dirinya masih berkomitmen untuk maju menjadi capres dari Partai Golkar, wacana SBY-AT seperti bola liar yang seharusnya diambil bekas Ketua DPR RI tersebut.
Akbar agaknya berhitung. Urusan eleketabilitas, formasi SBY-ATG cukup rendah dibanding dengan pasangan lainnya. Dalam survei LP3ES awal Desember lalu, pasangan SBY-AT hanya memperoleh 6,9%. Perolehan ini merupakan hasil terendah dibanding dengan formasi SBY-JK (33,6%), SBY-Sultan (11,9%), SBY-Prabowo (9,3%), dan SBY-Hidayat Nur Wahid (6,9%).
Ketua DPP Partai Demokrat Anas Urbaingrum cukup diplomatis menanggapi duet SBY-AT. Menurut dia, menetapkan kandidat cawapres SBY nanti dilakukan setelah pemilu legislatif dengan produk koalisi. Bahkan, Anas yang juga yunior Akbar menilai wacana SBY-AT hanyalah isu prematur saja. “Kami tidak mau terjebak pada isu-isu prematur di seputar Pemilu Presiden,” tegasnya.
Menurut Anas, pihaknya konsisten untuk tidak menyusun nama-nama bakal cawapres serta tidak membuat simulasi, apalagi pengandaian politik. Langkah demikian, lanjut Anas, diambil karena Demokrat konsisten mengawal SBY-JK hingga selesai masa tugasnya.
Sementara Ketua Umum PB HMI, Arif Musthopa menilai wajar saja wacana SBY-AT muncul. Meski demikian, Arif menegaskan pihaknya tidak akan mengarahkan pada kader HMI untuk memberikan dukungan kepada siapapun. “Karena komitmen HMI untuk kebangsaan dan keumatan. Khusus Pemilu 2009, kami ingin konsentrasi pada gerakan pemilih cerdas,” tegasnya.
Kedekatan SBY dengan kalangan HMI tidak bisa ditampik. Dalam acara Dies Natalis ke HMI pada pertengahan Februari lalu, SBY menyempatkan hadir memberi kata sambutan.
Alumni HMI yang tertampung dalam wadah Keluarga Alumni HMI (KAHMI) tidaklah bersuara tunggal. Meski demikian, bukan tak mustahil, wacana SBY-AT bakal terwujud sebagai pengganti SBY-JK. Ini pula seperti mengulang sejarah JK saat 2004 lalu.