Akibat runtuhan material lumpur bercampur batu serta pepohonan ini, akses jalan menuju wisata Air Terjun (Water Fall) Ironggolo dan Dolo yang berlokasi di Kecamatan Mojo putus total.
Bahkan material lumpur juga menerjang sebagian pemukiman rumah warga dan memaksa warga mengungsi dari tempat tinggalnya. Ada sekira 69 kepala keluarga (KK) yang bertempat tinggal di sana.
Beruntung, musibah longsor ini tidak sampai menelan korban jiwa maupun luka. Hanya rumah Sumardi, 40 warga setempat yang menderita kerusakan cukup parah. Musibah longsor juga "mengusir" ratusan pengunjung wisata air terjun untuk tidak melanjutkan perjalanan.
Sebab kondisi tanah di sepanjang tebing bukit nampak labil, dan sewaktu waktu mengakibatkan longsor susulan. Menurut Sumardi, musibah terjadi sekira pukul 09.00 Wib.
Hujan deras hampir sepanjang hari membuat sumber amat air yang berada di atas tebing meluap. Luapan dalam jumlah besar itu yang mengakibatkan tebing ambrol.
"Suaranya bergemuruh keras, seperti ada gempa. Setelah itu lumpur bercampur material batu dan kayu turun dari atas menutup jalan dan masuk ke rumah. Untungnya kejadianya pagi hari sehingga kita bisa langsung menyelamatkan barang-barang berharga, " ujarnya kepada wartawan.
Hingga Minggu siang, lumpur dan material batu dan pohon masih menutup jalan. Belum ada uluran bantuan dari pemerintah Kabupaten Kediri untuk membersihkan lumpur.
Sekretaris Desa Jugo Suparman mengatakan berencana mendatangkan alat berat, guna membersihkan lumpur dari jalan. Musibah longsor ini, diakui Suparman yang kedua kalinya setelah bulan Desember 2008. Hanya saja, bencana kali ini lebih parah.
"Selain akan bergotong royong, rencananya kami akan mendatangkan alat berat untuk membersihkan lumpur ini," pungkasnya.
Sementara itu akibat tanah longsor yang memutus akses jalan menuju lokasi wisata air terjun, ratusan pengunjung memutuskan pulang lagi. Para pengunjung tidak mau mengambil resiko keselamatan ketika tetap nekat meneruskan perjalanan.
Seperti dewi (25) salah seorang wisatawan asal Kabupaten Tulungagung akhirnya kembali pulang. Selain faktor keselamatan, dewi tidak ingin melakukan perjalanan memutar hingga 20 km, untuk sampai pos pintu masuk area wisata yang dalam kondisi normal cukup beberapa kilometer.
Perjalanan menuju lokasi wisata bisa ditempuh melalui ruas jalan, yakni Kec Mojo dan Kec Semen. Geografis dua wilayah kecamatan ini berbukit-bukti yang rawan terjadi longsoran.
"Kita putuskan untuk kembali saja. Karena selain situasi seperti ini tidak aman, kita juga tidak ingin melakukan perjalanan yang terlampau jauh," tuturnya.
Kepala Pos Jaga wisata air terjun Sujak mengatakan, musibah longsor ini membawa dampak ekonomis cukup besar bagi penjualan tiket masuk. Sebab, jumlah pengunjung tertinggi adalah pada hari libur, dengan rata-rata 300 orang setiap hari minggu.
"Kalau kondisinya seperti ini paling hanya puluhan orang yang berani datang," ujarnya. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, lokasi wisata sempat ditutup sementara dengan membentangkan tanda bambu larangan masuk. Namun beberapa jam kemudian penjaga posko wisata membukanya kembali.