Menurut Abah Yoyok dan Nana Sastrawan (penyair dari komunitas serumpun Tangerang) di Jakarta dan Tanggerang pun tidak ada acara yang memberikan ruang khusus buat para penyair untuk berekspresi seperti ini. Paling ada juga hanya sebatas pembacaan puisi dari buku-buku sastra, atau bedah buku, itu pun alokasi waktunya sangat minim.
Mereka mengaku sangat puas bisa datang ke Cirebon, walaupun pengunjung yang hadir tidak sebanyak undangan yang tersebar. Abah yoyok juga menambahkan, mungkin ini adalah satu-satunya radio di indonesia yang memberikan perhatian lebih pada para budayawan dan sastrawan. Terbukti acara yang biasanya hanya 2 jam bisa berlangsung sampai 3 jam, dan mengorbankan acara lainnya.
Atas pujian itulah, radio Rangga jati merasa perlu meningkatkan lagi keseriusannya dalam acara kumandang sastra tersebut.
Ratu Ayu (Neni Saputra) dan Nungsanti Sastraatmaja adalah dua orang penggagas yang memberikan perhatian penuh terhadap dunia sastra Cirebon. Kumandang sastra wong kreatif seni Cirebon lahir dari diskusi mereka ketika menghadiri ngopi bareng wong kreatif seni cirebon yang diadakan di cafe pribadi milik nungsanti sastraatmaja. Usulan dari Ratu Ayu (Neni Saputra) tersebut Akhirnya tercipta sebuah ide untuk membuat sebuah acara husus sastra di radio, dan kebetulan beberapa crew Rangga Jati kenal dengan Ratu Ayu dan suaminya (Ohara Marka)
Kepedulian mereka berdua sangat memberikan arti bagi penyuka sastra di wilayah cirebon dan sekitarnya. Dari ide-ide merekalah muncul wadah-wadah baru bagi para seniman. Untuk saling berbagi, menyatukan visi dan mendewasakan puisi.
Kumandang sastra wong kreatif seni Cirebon adalah bukti nyata dari kepedulian warga cirebon atas matinya kegiatan kesusastraan Cirebon. Dari ide-ide sederhana di warung kopi, kini acara ini mewujud menjadi idola bagi para pecinta puisi dan karya sastra. Bahkan dieluh-eluhkan oleh komunitas seni budaya "SERUMPUN TANGERANG".