"Harus kita upayakan untuk mengembalikan Memori kolektif rakyat terhadap pendiri bangsa. Tak sekedar pada sosok BK (Bung Krno), namun pada ajarannya, yang berinti pada gotong royong," ujar Anggota Komisi IX DPR, Rieke Diah Pitaloka, Rabu (6/6).
Menurutnya, saat ini sebagai sebuah bangsa sangat perlu "kehadiran BK" yang mewujud dalam solidaritas sosial, perasaan senasib sepenanggungan, saudara sebangsa setanah air.
"Kita butuh keberanian untuk jalankan ajaran-ajaran BK untuk kembali bisa berdiri tegak sebagai sebuah bangsa, dan tidak sekedar apa yang BK sebut sebagai 'bangsa kuli belaka'," jelasnya.
Dia menilai, ajaran-ajaran Bung Karno harus hidup di hati rakyat, terutama bagi pimpinan nasional, karena di seluruh dunia, tak ada pemimpin yang berhasil jadi nahkoda jika tinggalkan ajaran pendiri bangsanya.
"Tak ada pemimpin yang bisa sejahterakan rakyat, jika malah 'telikung' pondasi pendiri bangsa. Mendirikan bangunan republik dengan konsep yang berbeda dengan yang diletakkan Bung Karno yang secara tegas melakukan perlawanan 'revolusi belum selesai' terhadap kapitalisme dan imperialisme. Kesejahteraan sosial hanya jadi sebuah angan-angan tanpa akan pernah terwujud jika kepemimpinan yang ada justru berwajah neolib," tandasnya.
Diketahui, Soekarno dengan nama lahir Koesno Sosrodihardjo, lahir di Surabaya, 6 Juni 1901 dan meninggal di Jakarta, 21 Juni 1970 (69 tahun). Ia adalah Presiden Indonesia pertama yang menjabat pada periode 1945-1966. Ia memainkan peranan penting untuk memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda. Soekarno juga sebagai penggali dan pengonsep serta memberi nama Pancasila. Ia adalah Proklamator Kemerdekaan Indonesia bersama dengan Mohammad Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945.