Hal itu diungkapkan dalam acara dialog terbuka peringatan Hari Kartini dengan tema "Peran Ibu Dalam Membangun Karakter Bangsa". Acara diselenggarakan oleh Komunitas Mahasiswa Pecinta Cirebon (KMPC) di sekretariat KMPC, Kedawung, Cirebon, Jawa Barat, Rabu (24/3/14).
"Jangan sekali-kali mengucapkan satu katapun yang dapat menyakiti hati ibu. Ini perintah Allah seperti yang terdapat dalam salah satu ayat dalam Al-Qur'an. Begitu pula, sikap ini juga diperintahkan oleh Rasulullah SAW." Ujar H Tarmadi di hadapan para kaum muda.
Tarmadi menegaskan, peran ibu sangat besar dalam membentuk karakter generasi muda bangsa. Bahkan, menurutnya, keberhasilan seseorang kuncinya ada di tangan ibu.
"Banyak tokoh bangsa ini yang menjadi orang besar karena mereka sangat menghormati dan mencintai ibu", tegas tokoh NU Cirebon ini.
Dalam Acara tersebut, hadir pula para pembicara diantaranya, H Abdul Muiz Syaerozie S.Th.I, wakil Sekretaris Lakpesdam PWNU Jawa Barat; Jamaluddin Mohammad, Ketua Komunitas Seniman Santri (KSS); dan H Mukti Ali Lc, peneliti Rumah Kitab Bekasi.
Menurut Muiz, budaya yang mendiskreditkan perempuan masih begitu kuat, padahal peran perempuan sangat menentukan sekali bagi pembentukan karakter bangsa di dalam diri anak-anak muda. "Karenanya ini harus segera dibongkar dan membangun kembali budaya yang setara, tidak bias gender," jelasnya.
Sementara itu, Jamaluddin Muhammad berpendapat, Kartini bukan hanya sosok aktivis perempuan yang cerdas, tetapi juga kreatif. Baginya, Kartini adalah penulis handal dan ini harus tertanam dalam jiwa anak-anak muda.
"Dalam membangun budaya yang kreatif, aktif dan cerdas, pemerintah juga memiliki tanggungjawab yang besar dalam menciptakan itu. Pemerintah harus memilki terobosan program yang mengarah pada kesadaran anak-anak muda untuk lebih kreatif dan cerdas," katanya.
Sedangkan bagi Mukti Ali, menyoroti aspek pendidikan pesantren yang sarat dengan nilai-nilai pembentukan karakter bangsa, baik pada santri putra maupun putri. Ali membeberkan hasil penelitiannya tentang peran pesantren dalam membentuk karakter bangsa.
"Di pesantren ada best practice yang mendidik para santrinya untuk menghormati perempuan. Ini harus terus dikembangkan," demikian Mukti Ali.
Tujuan Acara ini diselenggarakan, menurut ketua penyelenggara, Rosyid, dimaksudkan agar generasi muda mau berefleksi atas menurunnya kualitas anak muda. Baik di bidang intelektual dan bahkan menurunnya kualitas moral," pungkasnya.