Cuplik.Com - Indramayu - Bermaksud menghormati para leluhur, warga setempat mengubur Kepala Kambing sambil menggelar tahlil dan doa bersama dalam acara adat Unjungan Buyut Putat di Blok Bojong desa Jatisawit Lor Kecamatan Jatibarang Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Rabu (27/11/13).
Acara tersebut dimeriahkan juga dengan Panjat Pinang untuk para pemuda, festival Tumpeng para ibu, undian berhadiah umum untuk warga, dan pagelaran seni tradisional khas Indramayu "Sandiwara".
Ketua Panitia Supendi menjelaskan, penguburan satu kepala kambing merupakan wujud persembahan secara simbolik atas jasa para leluhur untuk mengenang "tapakan" (jejak) Ki Jagantaka sebagai pelopor berdirinya wilayah Jatisawit.
"Ini hanya adat untuk meneruskan seperti yang dilakukan para pendahulu di desa kami. Katanya untuk menghormati leluhur," ujar pemuda yang akrab dipanggil Pendi ini.
Penguburan kepala kambing dilakukan pada Selasa malam di dalam lubang (balong) di samping pohon Putat dan dilanjutkan dengan pembacaan tahlil yang dihadiahkan untuk 10 tapakan Ki Jagantaka, lalu berdoa kepada Allah SWT sebagai bentuk kepasrahan diri dan rasa bersyukur atas kesuburan dan segala hasil bumi (sedekah bumi) yang sudah dinikmati oleh warga sekitar.
Tokoh masyarakat setempat, Muhadi, menjelaskan, sosok Ki Jagantaka mempunyai 10 Tapakan, yakni: Buyut Jarong, Buyut Kesepat, Buyut Sipuyuh, Buyut Sindar, Buyut Purwa, Buyut Sumur, Buyut Talunkanta, Buyut Simbran, Buyut Putat, dan Buyut Waru.
"Sepuluh tapakan itu berurutan dan nyambung dari ujung ke ujung. Itu tempat dan jalurnya Ki Jagantaka waktu dulu untuk melindungi desa," paparnya.
Buyut Putat sendiri diambil dari nama pohon besar (Pohon Putat), namun beberapa tahun lalu pohon besar itu ditebang karena adanya pro-kontra sebagian warga yang dianggap akan membawa kemusyrikan. Saat ini beberapa orang yang menebang pohon besar tersebut sudah meninggal dunia.
Salah satu sesepuh yang tinggal di sekitar buyut Putat, Pak Rastam menjelaskan, meski sudah ditebang, tempat itu masih menjadi keramat dan sakral bagi sebagian orang yang percaya. Konon, tanah di sekitar pohon termasuk ujung daun dari pohon Putat itu, bisa menyembuhkan hewan ternak yang sedang sakit.
"Anehnya dulu saat masih ada pohon besar, tak ada satu pun anaknya. Tapi ketika sudah ditebang, beberapa bulan tumbuh tujuh pohon, tapi yang dua ditebang saat masih kecil karena berjauhan, jadi tinggal lima pohon itu," katanya sambil menunjuk ke arah pohon tersebut.
Sementara, menurut tokoh masyarakat lain, Bapak Muslim mengatakan, bahwa Buyut Putat itu menjadi salah satu tempat persinggahan makhluk halus, namun bukan untuk menakut-nakuti tapi justru untuk melindungi warga. "Ibaratnya ini adalah stasiunnya begituan (makhluk halus -red)," katanya.
Sedangkan menurut Ketua Umum Forum Warga Jatisawit Lor (Forwaja), Ali Manawi menegaskan, ia menyayangkan jika setiap tempat-tempat yang bersejarah dan mempunyai nilai budaya tinggi tidak diperhatikan oleh pemerintah, padahal acara adat merupakan kekayaan budaya bangsa.
"Dari 10 tapakan itu saya lihat tidak terurus. Lama kelamaan akan dilupakan oleh generasi selanjutnya. Jika memang ini adalah peninggalan sejarah, Ini PR buat pemerintah desa dan pemerintah kabupaten Indramayu untuk merawat dan menyisihkan anggarannya untuk melindungi budaya tersebut," tegasnya.
Terkait adanya pro-kontra warga atas tempat-tempat yang dianggap mendekati kemusyrikan, menurut Ali, setidaknya pemerintah bersama para tokoh masyarakat harus menjadi penengah untuk menjelaskan yang sebenarnya.
"Semua pihak harus paham, antara budaya atau peninggalan sejarah dengan agama, itu harus dibedakan. Jangan dicampur-campur, nanti yang ada hanya meributkan sesuatu yang tidak jelas," pungkasnya.
Acara Unjungan tersebut juga mendapatkan respon dari Camat Jatibarang Drs H Jajang Sudrajat, PJ Kuwu Jatisawit Lor beserta seluruh pamongnya, lembaga desa dan tokoh masyarakat setempat. Mereka silih berganti menghadiri acara tersebut.
Diketahui, sosok Ki Jagantaka merupakan tokoh sejarah di wilayah setempat, konon gara-gara kisahnya, hingga saat ini, dua masjid di Jatisawit Lor tidak ada Bedugnya.