"Peringatan hari buruh sedunia, 1 Mei 2014, memiliki arti yang penting. Tidak hanya bagi kaum buruh atau pekerja Indonesia. Peringatan kali ini sesungguhnya menjadi momen krusial karena Indonesia ada pada dua situasi politik penting," ujar Anggota Komisi IX, Rieke Diah Pitaloka dalam rilisnya yang diterima cuplik.com, Selasa (29/4/14).
Dua momen krusial itu, pertama, terkait transisi kekuasaan, baik pada legislatif, dan terutama pada pimpinan nasional.
Kedua, Indonesia tahun depan pada 2015 akan memasuki era pasar bebas ASEAN ditambah enam Negara (Cina, India, Jepang, Korea Selatan, New Zealand, dan Australia).
Oleh karenanya, ia mengingatkan bahwa elemen buruh hendaknya bersatu dengan rakyat lainnya untuk menolak segala kebijakan yang akan menyengsarakan rakyat.
"Tanpa adanya dua kondisi tersebut pun kehidupan kaum buruh/pekerja Indonesia sesungguhnya ada dalam keterpurukan," jelas Rieke.
Ia menjelaskan, industrialisasi tentu merupakan hal yang tidak bisa dihindari di Indonesia. Bahkan Soekarno mengatakan bahwa Indonesia harus menjadi negara industri. Artinya, perbaikan nasib buruh atau pekerja tidak bisa menafikkan kondisi industri, terutama industri nasional.
Untuk itu, ia mengingatkan, selain adanya penguatan terhadap kaum buruh/pekerja, pemerintah wajib memberikan kepastian perlindungan bagi industri dalam negeri.
"Adanya kebijakan yang memperbaiki infrastruktur fisik misalnya jalan, angkutan kereta api, dan pelabuhan, memangkas ekonomi biaya tinggi dengan kemudahan perijinan dan jaminan terhadap keamanan, membangun sistem logistik, kebijakan energi yang berpihak pada industri, suku bunga bank, dan insentif pajak bagi para pengusaha yang memberikan kontribusi positif pada industri nasional," tandasnya.
Rieke juga mengingatkan akan kutipan Bung Karno pada 1950.
"Kemakmuran hidup kaum buruh, bukan saja mengenai soal kemakmuran rakyat, tetapi mengenai pula keselamatan negara seluruhnya" (Soekarno, 15 Februari 1950).